blogkombecks
Sedang memuat...

Tepung Tawar Antar Martunis Merantau ke Negeri Ayah Angkatnya CR7

Sekitar sebelas tahun yang lalu gempa besar yang disusul tsunami menghancurkan Aceh. Tercatat ratusan ribu orang tewas akibat bencana mahadahsyat itu. Namun ada beberapa kisah orang selamat yang sangat menginspirasi kita bahwa hidup harus tetap berjalan.

Salah satunya adalah kisah Martunis, bocah 7 tahun yang selamat setelah bertahan selama 21 hari di pohon bakau di kawasan pantai Syiah Kuala, tempat dia tersangkut usai terseret tsunami sejauh 2km. Sebelumya, pada 26 Desember 2004, dipagi hari, Martunis sedang bermain bola dengan teman-temannya. Tiba-tiba terjadi gempa besar 9,3SR mengguncang bumi Serambi Mekah. Gempa terbesar dalam 40 tahun terakhir.

Martunis ketika diwawancarai wartawan

Martunis bersama ibu, kakak, dan adiknya yang baru berusia 2 tahun lari menyelamatkan diri dengan menumpang mobil pick up tetangga mereka. Sementara sang ayah sedang bekerja di tambak. Disaat tsunami mencapai daratan, mobil pick up yang mereka tumpangi terbalik tak kuat menahan tekanan air. Martunis tiba-tiba muncul kepermukaan dan sempat meraih tangan adiknya kecilnya. Namun akhirnya hanya dia dan ayahnya yang selamat dari bencana besar itu.

Selamat dari terjangan tsunami, Martunis mencoba tetap terapung dengan memegangi kayu yang hanyut, sempat berpindah ke kasur hingga terdampar di bawah pohon kelapa yang masih kokoh, hingga akhirnya kembali hanyut kelaut dan tersangkut di pohon bakau. Setelah sekian lama terdampar di hutan bakau, Martunis akhirnya ditemukan sejumlah warga yang sedang mencari korban tsunami. Kemudian, Martunis diserahkan kepada jurnalis televisi asal Inggris yang sedang meliput. Oleh jurnalis itu, Martunis kemudian diserahkan kepada organisasi Save the Children.

Saat ditemukan tubuh Martunis penuh dengan luka goresan, lemas, dan dehidrasi. Berdasarkan pengakuannya ia mampu bertahan hingga tiga pekan dengan makan makanan sisa dan minum air bercampur lumpur. Ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan hidup, Martunis menjawab, "Saya tidak merasa takut sama sekali karena saya hanya ingin hidup dan bertemu dengan keluarga saya dan menjadi pemain sepakbola," ucapnya.

Kisah Martunis akhirnya sampai ke seantero Portugal, karena saat itu ia ditemukan tengah menggunakan jersey timnas Portugal nomor 10 bertuliskan nama Rui Costa. Jersey yang tampak kedodoran ditubuh Martunis kecil mengubah masa depannya. Pemain terbaik sejagat Cristiano Ronaldo yang juga berasal dari Portugal tergugah dengan kisah Martunis. Martunis kemudian diundang secara khusus ke Portugal untuk bertemu dengan CR7, julukan Cristiano Ronaldo. Winger Real Madrid ini mengangkat Martunis sebagai anaknya.

Martunis dan ayah angkatnya Cristiano Ronaldo

Tak hanya bertemu dengan Cristiano Ronaldo, Martunis juga bertemu dengan sejumlah legenda portugal seperti Eusebio dan pemain yang masih aktif di timnas. Lalu pelatih Portugal saat itu, Luiz Scolari, hingga bertemu dengan Presiden FIFA Sepp Blatter. Scolari dikabarkan memberikan sebuah rumah untuk Martunis di Aceh, sementara ayah angkatnya memberikan dana pendidikan.

Martunis berfoto bersama pemain timnas Portugal


Martunis dan Presiden FIFA Sepp Blatter


[next] Bertahun-tahun setelah tsunami Aceh, Martunis dan Cristiano Ronaldo kerap bertemu. Terakhir, mereka bersua saat pesepakbola terkaya di dunia ini menyambangi Bali pada 2013 lalu. Saat itu, Cristiano ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Duta Mangrove Indonesia. Ini adalah pertemuan Martunis terakhir kalinya dengan ayah angkatnya, saat itu ia dihadiahi jersey Real Madrid milik CR7. Tak ketinggalan Cristiano Ronaldo memberikan pesan motivasi untuk sang anak. "Jangan pernah bosan dan berhenti bermain bola. Kamu pasti bisa main di Portugal," kata pemain yang digadang-gadang akan memenangkan Ballon d'Or tahun ini.

Martunis saat bertemu Cristiano Ronaldo pada 2013

Martunis yang bercita-cita jadi pesepakbola profesional ini pernah ikut seleksi timnas Indonesia junior ketika ia berumur 17 tahun, namun gagal pada seleksi tahap kedua. Sebelumnya ia sempat bergabung dengan PSAP Sigli. Kini mimpi Martunis menjadi kenyataan ketika ia bergabung di akademi sepakbola Sporting Lisbon, yang juga tempat ayah angkatnya memulai karir sepakbola, Atleta Sporting, akademi Sporting Lisbon.

Sesuai dengan tradisi di Tibang, Martunis disiram tepung tawar sebagai tanda restu dari orang tua. Menurut ayah kandung Martunis, Sarbini, neneknya juga sudah merestui kepergian sang cucu. Di Portugal ia akan berada selama 1 tahun untuk tahap pertama. Harapan sang ayah sangat sederhana, ia ingin anaknya bisa mendapat penghidupan yang lebih layak dibanding dirinya. "Saya tidak mau dia berakhir seperti saya, tidak memiliki pendidikan yang cukup dan hanya pekerja tambak," ujarnya penuh harapan.

Masuk akademi bergengsi tentu merupakan sebuah kebanggaan terutama bagi anak Indonesia, walaupun sejujurnya ada banyak campur tangan sang ayah angkat dalam hal ini. "Martunis akan berada bersama kami, sebagai bentuk kepedulian dan kemanusiaan kami," kata Presiden Sporting, Bruno de Carvalho.

Martunis berdiri disebelah Presiden Sporting Lisbon Bruno de Carvalho


Di akademi ini. Martunis akan menggunakan nomor punggung 28, nomor yang juga digunakan CR7 ketika masih di akademi. Tak hanya itu, jauh-jauh hari Martunis bahkan sudah memangkas rambutnya seperti gaya rambut Cristiano Ronaldo. Tentu saja ada harapan besar pada diri Martunis, ia ingin mengikuti jejak karir ayah angkatnya. Mimpi memang harus setinggi langit, namun tembus skuat senior Sporting Lisbon atau bermain untuk tim profesional lainnya sudah cukup bagi kita bangga kepada Martunis.

Martunis memperlihatkan jerseynya


Sayangnya, anak muda kelahiran Aceh ini lebih memilih memperkuat timnas Portugal suatu saat nanti.  “Ia ingin bermain di Portugal dan membela timnas selecao (Portugal, red),” tulis Sporting Lisbon dalam situs resminya. Bahkan dikabarkan, Sporting Lisbon akan membantu Martunis mendapatkan kawarganegaraan Portugal.

Saat ini Sporting Lisbon sedang terancam sanksi dari FIFA tentang aturan transfer pemain. Saat ini usia Martunis baru 17 tahun, sedangkan untuk transfer internasional yang dipersyaratkan adalah 18 tahun. Ada beberapa opsi yang bisa meloloskan Sporting Lisbon dari sanksi tersebut, diantaranya adalah adalah alasan kepindahan adalah untuk belajar dan harus didampingi orang tuan, transfer pemain berada di zona ekonomi Eropa dan berusia antara 16-18 tahun, dan tempat tinggal pemain tidak boleh lebih dari 100km dari pusat klub.

Opsi yang dipilih Sporting Lisbon adalah membantu Martunis untuk mendapatkan kewarganegaraan Portugal. Namun ini juga tidak mudah, karena begitu banyak persyaratan untuk memperoleh "KTP" portugal yang tidak mungkin terealisasi dalam waktu dekat. Seseorang bisa mendapatkan kewarganegaraan Portugal jika sudah berusia di atas 18 tahun, tinggal dan memenuhi hukum Portugal selama enam tahun, fasih berbahasa Portugis, tidak memiliki catatan buruk pada hukum negara (Portugal) setidaknya pada tiga tahun terakhir.

Bagaimanapun nanti hasilnya nanti, ini adalah titik dimana Martunis akan menentukan nasibnya dimasa depan. Tidak peduli dimanapun ia bermain, apakah jadi di akademi Sporting Lisbon atau tidak, asalkan Martunis bisa mengasah bakatnya dengan baik ia akan menggapai mimpinya, ia akan membuat bangga ibu dan dua saudaranya diatas sana, tentu saja ayah dan neneknya yang masih hidup juga turut bangga.
Editorial 5104513058294109127

Beranda item

ADS

Artikel Terbaru

ADS

Mau Hosting Gratis?
Kapasitas besar, bisa PHP, Lengkap dengan cpanel, auto installer dengan CMS Favorit?
Hosting gratis tanpa iklan !!!

Ikuti Lewat Email

Ads

Mau Hosting Gratis?
Kapasitas besar, bisa PHP, Lengkap dengan cpanel, auto installer dengan CMS Favorit?
Hosting gratis tanpa iklan !!!